Wali Majdub,Siapa & Bagaimana Cirinya ?

Istilah jadzab untuk orang yang belum mengetahui dunia tasawuf atau belum belajar tasawuf sama sekali (yang seterusnya disebut orang awam), pasti sangatlah asing dengan istilah ini.

Sebenarnya orang awam sering melihat fenomena ataupun bersinggungan langsung dengan istilah atau pelaku jadzab, sering orang awam mengatakan,” kyiai koyok wong edan (bahasa jawa yang artinya kyiai seperti orang gila)”, atau “wah, wong ka’e kakean ilmu (agama), trus durung wayahe ngamalke malah diamalke dadine edan (bahasa jawa yang artinya wah, orang itu terlalu banyak ilmu (agama), belum saatnya diamalkan, justru diamalkan, jadinya gila)”.

Fenomena-fenomena itulah yang disebut dengan jadzab.Orang yang jadzab disebut majdub. Pada umumnya majdzub adalah para sufi atau para praktisi taswuf, atau didalam dunia tasawuf disebut dengan orang salik dalam menempuh thariqah.


Jadzb jika diistilahkan kedalam bahasa Indonesia adalah wali gila. Dimana wali gila ini bertingkah laku seperti orang gila, dan tidak sering melakukan hal-hal yang sering bertentangan dengan syariat agma Islam, seperti meminum-minuman keras, berjudi, bergaul (melakukan hubungan suami-istri) dengan para WPS (wanita pekerja seks) akan tetapi pada hakikatnya perilaku para majdzub ingin memberikan suatu pesan tertentu kepada seseorang atau kepada masyarakat.

Dan Perilaku tersebut sering menimbulkan perdebatan para ulama, ada yang menentang dengan keras karena dapat menyesatkan umat, dan ada yang memaklumi karena dianggap sebagai anugerah langsung dari Allah.

Jika dipandang dari dunia psikologi, maka jadzb hampir sama dengan gangguan buatan (malingering), sters, depresi, gangguan waham, gangguan kepribadian dissosial, gangguan kepribadian emosional tak stabil atau skizofrenia.

Akan tetapi secara hakikat sangatlah berbeda majdzub dengan orang yang sedang terkena gangguan kejiwaan secara umumnya, jika ditinjau dari berbagai aspeknya.


Jadzb atau wali gila merupakan istilah di dalam dunia tasawuf. Banyak sekali perdebatan yang terjadi didalam ulama umat Islam, ada yang setuju ada yang tidak setuju.

Didalam dunia psikologi ada beberapa gangguan kejiwaan yang hampir sama gejala- gejalanya denga para pelaku Jadzb, akan tetapi ada beberapa perbedaan yang mendasar antara para pelaku Jadzb dengan orang yang mengidap gangguan kejiwaan, supaya lebih jelas perbedaaan antara keduanya maka di dalam artikel ini akan dibahas

Pengertian wali Gila atau Wali Majdzub
Menurut al-Qusyairi (w. 456 H atau 1072 M) kata wali memiliki dua pengertian.

Pertama, berbentuk fa’il dan bermakna fa”ai (pelaku pekerjaan), wali adalah orang yang selalu menjalankan perintah Allah dengan sungguh-sungguh tanpa disertai perilaku maksiat.

Kedua, dapat berbentuk fa’il dengan arti maf’ul, dimana wali memiliki arti orang yang selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT.


Jadzb berasal dari kata jadzabu, yang berarti menarik, memikat, menawan (hati), memindah dari suatu tempat ketempat lain.

Sedangkan para ulama’ berpendapat jadzb adalah tarikan ilahiyah pada seorang hamba yang Dia kehendaki, supaya hamba tersebut bisa lebih dekat kepada-Nya, karena mendapatkan pertolongan dari Allah tidak melalui perantaraS, tanpa ada usaha (ghayr muktasab) ataupun dengan melakukan perjalanan spiritual ( mujahadah). Dan orang yang jadzb disebut majdzub.

Menurut Cyril Glase, jadzb adalah istilah ketertarikan jiwa-jiwa tertentu kepada Tuhan. Keadaan orang yang mengalami jadzab, berperilaku tidak wajar, seperti orang “gila”, akan tetapi dia memperoleh pengetahuan tentang realitas superior yang datangnya secara tiba-tiba, terkadang keadaan tersebut bisa sementara bisa juga bersifat selamanya.

Wali Majdzub dalam pandangan Ulama’ dan Psikologi.
Kontrofersi di dalam suatu isu-isu atau permasalahan yang muncul di masyarakat pastilah ada, tidak terkecuali para wali Majdzub. Ada beberapa ulama yang menentang dengan keras dan ada para ulama yang memeklumi para pelaku jadzb.

habib abubakar

Para ulama yang menentang para Wali Majdzub diantaranya al-Junayd, Abu al-Abbas Sayyari, Abu Bakar Wasithi, Ibn al-Jawzi al-Baghdadi, Ibn Taimiyah, al-Syawkani, Haji Muhammad Shalih Ibn ‘Umar al-Samarani yang dikenal sebagai Kiai Saleh Darat, Fazlur Rahman, Abdul Rahman Abdul Khaliq.

Al-Junayd (w. 297 H atau 910 M), Abu al-Abbas Sayyari, Abu Bakar Wasithi, memiliki pendapat, bahwa karamah ( keajaiban-keajaiban spiritual) para wali seharusnya diaplikasikan dalam keadaan sadar, tenang tidak dalam keadaan ”mabuk”.

Mereka menyatakan bahwa awliya’ Allah adalah para penguasa dan pengawas alam semesta beserta isinya, yang telah dititipkan oleh Allah kepada para awliya’ Allah, sehingga tidaklah pantas orang-orang yang dalam keadan tidak sadar atau “mabuk” itu menjadi penguasa dan pengawas alam semesta beserta isinya.

Ibn al-Jawzi al-Baghdadi menyatakan para sufi yang berperilaku menyimpang dari syari’at Islam, seperti tidak makan dan tidak minum sehingga menimbulkan keburukan, suka mendengarkan lagu dan gendang disertai dengan tepuk tangan, yang diiringi dengan perasaan tawbat seperti yang dilakukan oleh para wali majdzub merupakan bagian dari rayuan setan yang merasuki jiwa para sufi tersebut.

Sehingga perbuatan itu tidak dapat dibenarkan ataupun dimaklumi karena dapat menyesatkan umat Islam yang masih awam.

Ibn Taimiyah, al-Syawkani, Abdul Rahman Abdul Khaliq beranggapan bahwa seorang wali seharusnya konsisten dengan ajaran syari’at Islam. Seseorang yang perbuatanya bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah Saw, dia bukanlah seorang wali.

Kalaupun dia memiliki kelebihan-kelebihan yang di luar nalar, itu bukanlah karamah, merupakan pemberian yang diberikan setan.
Haji Muhammad Shalih Ibn ‘Umar al-Samarani yang dikenal sebagai Kiai Saleh Darat menyatakan jangan mudah tertipu dengan orang yang mengaku mempunyai ilmu haqiqat, akan tetapi meninggalkan shalat, menjalankan ma’siat atau melanggar syari’at Islam.

Orang yang paling utama disisi Allah adalah para nabi, baru kemudian para wali-Nya. Apakah pantas seorang wali meninggalkan atau melanggar perintah Allah, sedangkan para nabi itu tidak pernah meninggalkan perintah Allah.

Fazlur Rahman berpendapat, pada dasarnya para majdzub adalah penyeleweng-penyeleweng spiritual. Penyeleweng tersebut adalah para syaikh-syaikh sufi para darwis yang memeras orang, pengemis-pengemis parasitis yang menjadi juru bicara agama Islam.

Sedangkan para tokoh yang memandang wali madjzub penuh dengan kearifan, diantaranya Ibn’Atha’ Allah, al-Hakim al-Tirmidzi, J. Spencer Trimingham, Mihrabi. Tokoh-tokoh ini mampu memahami kondisi spiritual yang sedang menimpa para wali majdzub, yang berperilaku seperti orang “gila”.

Ibn ‘Atha’ Allah berpendapat (w 674 H atau 1309 M), para wali majdzub berperilaku seperti orang gila dikarenakan dia kehilangan kesadaran yang disebabkan, ditariknya kesadaran wali majdzub olh Allah. Ibn ‘Atha’ Allah juga berpendapat pada hekekatnya para wali majdub itu masih sadar dengan relitas yang terjadi disekitarnya.


Al-Hakim al-Tirmidzi menyatakan untuk mendapatkan derajat al-wilayah , seseorang dapat menempuh dengan jalan jadzb. Jika seseorang benar-benar mengalami jadzb, maka bisa dikatakan dia telah mendapatkan derajat seorang wali. Dengan berjadzb, dia memperoleh pengetahuan tentang realitas superior secara tiba-tiba dan memiliki banyak keajaiban dari kata-kata atau ilmunya.

J. Spencer Tirmingham menjelaskan , sesungguhnya wali majdzub telah kehilangan kesadaran personal dalam keesaan Ilahi. Maka dari itu, wali majdzub tidak dikenakan sangsi atas segala ucapan dan perbuatanya, meskipun perkataan dan perbuatanya menyimpang dianggap orang lain sebagai penyimpangan atas norma yang berlaku.


Mihrabi berpendapat yang pendapatnya dinyatakan oleh Jean Aubin, beliau melihat wali majdzub dari segi positifnya. Yang mana keberadaan para wali majdzub dapat menimbulkan kemakmuran dan kesejahteraan pada masyarakat disekitarnya.


Antara Jadzb dan perilaku abnormal
Dalam mengidentifikasi seseorang yang sedang jadzb dengan orang yang berperilaku abnormal tidaklah mudah, bahkan keduanya menunjukkan perilaku yang hampir identik.

Perbedaanya hanya terletak pada penyebab seseorang itu menjadi wasli majdzub atau menjadi abnormal, untuk pelaku jadzb penyebabnya dari pengalaman spiritual sedangkan orang abnormal itu disebabkan oleh permasalahan hidup yang tidak dapat diselesaiakanya.

Untuk membedakan antara pelaku jadzb dengan orang yang mengalami abnormal, berikut akan dijelaskana beberapa macam gangguan psikologis yang memiliki ciri hampir sama dengan para pelaku jadzb. Diantaranya sters dan psiko fungsional.
Stress
Stress merupakan kondisi tegangan psikologis yang dihasilkan oleh jenis daya atau tekanan dan terkadang stres itu di sertai dengan frustasi.
Di dalam stres terdapat tiga fase:
1. reaksi peringatan pada system otonom diaktifkan oleh sters. Jika stres terlalu kuat maka terjadi luka pada saluran pencernaan, kelenjar adrenalin membesar.
2. organisme beradaptasi dengan sters melalui berbagai mekanisme pertahana yang dimilki.
3. jika stersor menetap dan organisme tidak mampu merespon dengan efektif maka terjadi yang namanya kelelahan.

Psiko fungsional
Psiko fungsional dalah gangguan kejiwaan berat yang disebabkan oleh faktor-faktor non-organis, kekacuan mental secara fungsional sehingga terjadi kepecahan pribadi. Penyakit kejiwaan ini bisa disebabkan oleh faktor keturunan dan pengalaman-pengalaman yang merngandung konflik yang sangat serius yang tidak bisa diatasinya.

Dan yang masuk dalan kategori psikosa fungsional adalah Skizofrenia, Manis-depresif dan paranoia.

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan yang ditandai dengan pikiran yang tidak saling berhubungan, dan gangguan pada emosi serta perilaku.[11] Pada umumnya seseorang yang mengalami Skizofrenia dihinggapi angan-angan dan fikiran yang keliru seperti halusinasi[12], ilusi[13]sering tidak tahu malu seperti sering tidak mengenakan pakaian, menjadi jorok dan kotor, emosi yang tegangu seperti terkadang menangis atau tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas. Skizofrenia di bagi kedalam tiga kategori:
a. Skizofrenia hebefeenik
Skizofrenia hebefeenik adalah mental atau jiwanya menjadi tidak peka. Kesadaranya masih jernih, akan tetapi kesadaran tentang “aku “ sangat tergangu.
b. Skizofrenia katatonik
Penderita Skizofrenia katatonik memiliki ciri tubuhnya seperti kaku. Dan penderita ini memiliki cirri urat-uratnya menjadi kaku, pola tingkah laku menjadi aneh yang tidak dapat dikendalikan oleh kemauanya.
c. Skizofrenia paranoid
Penderita diliputi macam-macam delusi[14] dan halusinasi yang terus berganti-ganti coraknya dan tidak teratur, serta kacau balau. [15] dan diiringi denga perasaan yang selalu curiga terhadap orang lain.

Psikosa Paranoia adalah gangguan mental yang sangat parah, dicirikan dengan timbulnya delusi-delusi dan dihinggapi banyak ide yang salah dan melekat secara terus menerus. Penyebabnya adalah kecenderungan-kecanderungan homoseksual dan dorongan-dorongan seksual yang tertekan, kebiasaan berfikir yang salah.

Kesimpulan
Jelaslah perbedaan antara orang yang sedang mengalami jadzab dengan orang abnormal. Orang yang sedang jadzb itu disebabkan oleh pengalaman spiritualnya sedangkan untuk orang abnormal itu merupakan orang yang tidak sanggup untuk mengatasi problematika kehidupan yang dihadapinya.

1 Trackback / Pingback

  1. Tanda Waliyullah Pada Seseorang – Gus Javar Pasuruan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*